prinsip surgawi
Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hamparan padi dan angin sejuk dari perbukitan, tinggal seorang gadis bernama Salma. Ia dikenal sebagai anak yatim yang hidup sederhana, namun hatinya dipenuhi cahaya yang tak banyak dimiliki orang lain keikhlasan.
Suatu hari, desa mereka dilanda musibah. Sungai yang biasanya jernih berubah keruh dan meluap. Banyak rumah warga terendam, termasuk rumah Salma yang hanya terbuat dari kayu dan bambu. Saat warga panik menyelamatkan harta benda mereka, Salma justru terlihat membantu seorang nenek tua yang terjebak di dalam rumahnya.
"Salma! Barang-barangmu hanyut!" teriak seorang tetangga.
Salma hanya tersenyum, menuntun si nenek keluar dari bahaya. "Tak apa, Bu. Barang bisa dicari, tapi nyawa tak tergantikan."
Setelah banjir surut, warga desa berkumpul di balai. Kepala desa mengumumkan bahwa akan ada bantuan, namun jumlahnya terbatas. Hanya beberapa keluarga yang bisa menerima.
Semua orang mulai berebut, kecuali Salma yang duduk diam di pojok balai.
“Kenapa kau tidak ikut mengambil bantuan?” tanya Pak Kepala Desa padanya.
Salma menunduk, “Masih banyak yang lebih membutuhkan, Pak. Saya masih kuat bekerja, masih punya doa, masih punya harapan.”
Pak Kepala Desa terdiam, lalu berkata lantang ke hadapan warga, “Inilah yang disebut prinsip surgawi. Menolong tanpa pamrih, memberi tanpa menunggu balasan. Kita belajar dari Salma hari ini.”
Hari itu, bantuan yang semula hanya cukup untuk sebagian, tiba-tiba datang lebih banyak. Entah dari mana, rombongan dari kota membawa logistik dan pakaian. Kepala rombongan berkata, “Kami mendapat laporan dari seseorang tentang seorang gadis yang lebih memilih menolong sesama daripada menyelamatkan dirinya sendiri. Kami ingin membalas kebaikan itu.”
Salma hanya tersenyum, dan menengadah ke langit.
Dalam diamnya, surga telah mencatat segala amalnya. Dan prinsip surgawi pun hidup dalam dirinya—menjadi cahaya di dunia yang gelap oleh ego dan ketamakan
Komentar
Posting Komentar